Selasa, 12 Juni 2012
unfortunately, dear. i am not scare of any separation or losing anymore. i have done mine, years ago.
Sabtu, 09 Juni 2012
jadi beginilah, Yassir pulang dari pelatihan kepemimpinan di Bukit Tinggi. bawa oleh-oleh cerita tentang 'warna' orang-orang. Warna dia hijau..
So, i searched and took the test. tes yang aku ikuti, ternyata mengklasifikasikan warna seseorang menjadi empat pilihan. biru, merah, kuning dan putih. dan warnaku biru,
Blues are motivated by Intimacy. They seek to genuinely connect with others, and need to be understood and appreciated. Everything they do is quality-based. They are loyal friends, employers, and employees. Whatever or whomever they commit to is their sole (and soul) focus. They love to serve and give of themselves freely in order to nurture others' lives.
aku rasa, ada benarnya juga..
So, i searched and took the test. tes yang aku ikuti, ternyata mengklasifikasikan warna seseorang menjadi empat pilihan. biru, merah, kuning dan putih. dan warnaku biru,
Blues are motivated by Intimacy. They seek to genuinely connect with others, and need to be understood and appreciated. Everything they do is quality-based. They are loyal friends, employers, and employees. Whatever or whomever they commit to is their sole (and soul) focus. They love to serve and give of themselves freely in order to nurture others' lives.
aku rasa, ada benarnya juga..
Feels like a scary clown in the box. Waiting for a person to
open the box all the time. But no one came, no one opened the box. You keep
waiting, but no one realized that the box is exist. How does it feel?
Sabtu, 02 Juni 2012
sudah lama sekali saya tidak menulis. tidak menceritakan rasa.
biasanya, menulis lebih mudah dilakukan saat sedang ada masalah, lagi galau, stres.. entah mengapa kata-kata berputar-putar di dalam kepalaku ketika keadaan sedang tidak baik. mungkin itu biasa saja, mungkin itu kelebihan.. :)
tapi bukan berarti kondisi saat ini sedang baik-baik saja. menurutku, "pain makes you alive." pain di sini, ya semua hal yang bersifat irritated. irritate your heart, body, mind, soul, anything! kalau tidak ada masalah, bukannya hidup ini bakal berjalan lurus-lurus saja? tidak ada feel-nya.. hidup saya naik turun akhir-akhir ini, mood saya jangan ditanya lagi! hahah,
kalau begini, munngkin saja saya tidak menulis karena malas. atau memang saya tidak memaksakan diri untuk menulis. pathetic..
*i think i'm a person who loved to write word: pathetic
biasanya, menulis lebih mudah dilakukan saat sedang ada masalah, lagi galau, stres.. entah mengapa kata-kata berputar-putar di dalam kepalaku ketika keadaan sedang tidak baik. mungkin itu biasa saja, mungkin itu kelebihan.. :)
tapi bukan berarti kondisi saat ini sedang baik-baik saja. menurutku, "pain makes you alive." pain di sini, ya semua hal yang bersifat irritated. irritate your heart, body, mind, soul, anything! kalau tidak ada masalah, bukannya hidup ini bakal berjalan lurus-lurus saja? tidak ada feel-nya.. hidup saya naik turun akhir-akhir ini, mood saya jangan ditanya lagi! hahah,
kalau begini, munngkin saja saya tidak menulis karena malas. atau memang saya tidak memaksakan diri untuk menulis. pathetic..
*i think i'm a person who loved to write word: pathetic
Jumat, 20 April 2012
aku sedang melihat diriku.
jelas, tanpa ada sekat.
aku membaca setiap inci tubuhku, jiwaku, hatiku.
kau sedang melihat diriku.
hitam terkadang abu-abu.
hitam yang dibalut keindahan, keindahan yang menyakiti setiap inci jiwamu.
aku sedang melihat dirimu.
bersemangat, muda dan bebas.
kedewasaan tak kau perlukan, karena kau merdeka.
aku telah mengenal aku.
tak ada keraguan, tak ada kebimbangan.
aku dengan segala kekuranganku, kini menari di atasmu.
kau menangis, tapi kau tak akan melihatku menangis.
kau batu, aku karang. siapa yang lebih kuat?
jelas, tanpa ada sekat.
aku membaca setiap inci tubuhku, jiwaku, hatiku.
kau sedang melihat diriku.
hitam terkadang abu-abu.
hitam yang dibalut keindahan, keindahan yang menyakiti setiap inci jiwamu.
aku sedang melihat dirimu.
bersemangat, muda dan bebas.
kedewasaan tak kau perlukan, karena kau merdeka.
aku telah mengenal aku.
tak ada keraguan, tak ada kebimbangan.
aku dengan segala kekuranganku, kini menari di atasmu.
kau menangis, tapi kau tak akan melihatku menangis.
kau batu, aku karang. siapa yang lebih kuat?
Selasa, 10 April 2012
Sekarang jam 20.01 di handphone-ku. Tadinya, ingin menulis
banyak hal tentang Budi. Seorang teman yang baik, ceria, talented, aktif di mana-mana dan punya cita-cita besar. Tapi sampai
sekarang, masih tidak tahu harus memulai darimana. Atau sebenarnya, aku sudah
memulai?
***
Kira-kira sudah lebih
dari sebulan tidak berkomunikasi dengan dia. Terakhir kali berbincang, saat
kami bertemu di pameran foto di Convention Hall Hotel Santika. Seperti biasa,
ia tampak bersemangat dan cerewet. J
Budi baru saja memimpikan aku, dan mimpinya cukup aneh. Aku terbahak. Tak lama
setelah hari itu, kami masuk di kelas yang sama. Nyaris tak ada interaksi saat
itu. Beberapa minggu kemudian, pesannya masuk di handphone-ku mengabarkan tugas untuk mata kuliah tersebut.
Tadi siang, hampir jam
14, Galih salah satu teman kami menelpon. Hampir tidak aku angkat karena lagi
makan dan nomornya tidak tersimpan di handphone.
Bicaranya terburu-buru dan ada nada cemas yang aku tangkap. “Ban, udah tau kabar Budi?”
Kabar yang Galih
sampaikan, Budi sedang koma karena Leukimia. Galih baru saja ditelpon oleh
tante Budi yang berada di Penang bersama Budi. Jam 18 akan sampai di Polonia.
Sempat bingung juga, kabar ini benar atau tidak.
Tak
sampai sejam yang lalu, Moyang (juga teman aku dan Budi) mengirim pesan teks. Keadaannya
makin kritis karena pecah pembuluh darah di otak, Budi bakal tetap di Penang.
Tak lama kemudian, kabarnya Budi harus dioperasi walau kemungkinannya 50
banding 50. Ya Tuhan…
***
Hari ini, 9 April 2012.
Kabar tebaru, dokter di Penang sudah give
up atas kondisi Budi. He’ll be back here soon.
Banyak berita yang
disiarkan melalui blackberry messenger,
tak sedikit yang hoax. Sayangnya aku bukan pengguna BB, dan masih berharap
kabar yang dikirim via pesan teks.
Omong-omong, Minggu
pagi kemarin aku digabungkan ke grup Facebook ‘semua sayang budi’. Semoga ada
kabar baik dari sana. Karena, semua memang sayang Budi.
7-9 April 2012
Jumat, 16 Maret 2012
Senin, 13 Februari 2012. Dengan alasan menjaga nama baik USU dan menjaga ketertiban Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Rektorat USU mengeluarkan surat larangan menginap di sekretariat tanpa seizin Pimpinan USU. Tamu yang berjenis kelamin perempuan hanya diperbolehkan bertamu ke sekretariat pada siang hari. Bagi yang tidak mengindahkan akan di tindak petugas keamanan dan ketertiban USU. Pemasungan gerak, ekspresi mahasiswa dan diskriminasi gender tersebut ternyata hanya awal.
Selasa, 13 Maret 2012. Pihak Rektorat USU diwakili staf bagian kemahasiswaan memberikan Surat Keterangan (SK) Pengesahan Kepengurusan kepada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) USU di Gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan USU. Namun dari 22 jumlah UKM di USU, hanya UKM Pers Mahasiswa SUARA USU saja yang tidak diberikan SK tersebut. Alasannya bisa diterima akal. Ada beberapa hal yang harus diperbaiki dari surat kepengurusan Pers Mahasiswa SUARA USU.
Setelah pembagian SK usai, SUARA USU menjumpai Kepala Unit Bina Kemahasiswaan dan Kealumnian (BKK) USU untuk mempertanyakan penahanan SK tersebut di Gedung Biro Rektor USU. Ternyata, pihak Rektorat USU mengatakan penahanan SK tersebut karena perlu adanya reviewer pemberitaan SUARA USU.
Rektorat USU mencoba menyensor pemberitaan SUARA USU yang akan diterbitkan. Pihak rektorat merasa gerah dengan pemberitaan SUARA USU. Sehingga SUARA USU harus memberikan naskah pemberitaan kepada Rektorat USU sebelum diterbitkan. Pihak rektorat sendiri tidak bisa menjelaskan di mana letak pemberitaan SUARA USU yang salah.
Penyensoran berita SUARA USU oleh pihak rektorat bermaksud memeriksa dan menyeleksi pemberitaan yang bisa atau tidak dimuat SUARA USU sesuai keinginan pihak rektorat. Jika ada pemberitaan SUARA USU yang tidak berkenan dengan pihak rektorat maka harus disensor. Pihak rektorat mengatakan penyensoran berita ini agar berita-berita yang diterbitkan SUARA USU tidak memberitakan kebobrokkan yang ada di USU.
Pihak rektorat menilai kebobrokan tersebut tidak perlu diberitakan karena mencoreng nama USU. Rektorat mengancam tidak akan memberikan SK tersebut jika SUARA USU tidak memberikan naskah berita yang akan diterbitkan kepada pihak rektorat terlebih dahulu.
UKM, termasuk SUARA USU memang di bawah naungan rektorat USU. Pendanaan, pelindungan, sekretariat dan banyak hal lain yang mendukung kegiatan SUARA USU. Namun bukan berarti rektorat dapat mambatasi bahkan membelenggu demokrasi dengan menyensor pemberitaan SUARA USU. Sebab dengan adanya penyensoran pemberitaan SUARA USU merupakan pembelengguan masyarakat terhadap kebebasan berpendapatnya. Tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana UUD 1945 sendiri menjamin masyarakatnya bebas untuk menyampaikan pendapat.
SUARA USU, UKM yang bergerak dalam dunia pers dengan menerapkan prinsip dan etika jurnalistik juga termasuk dalam pilar keempat dalam demokrasi. Sehingga perannya sangat sentral dalam terciptanya demokrasi di lingkungan sivitas kampus. SUARA USU coba menjadi wadah masyarakat agar aspirasi mereka dapat didengar oleh khalayak. Sehingga kemerdekaan dan independensinya harus dijamin negara tanpa dirusak oleh siapa dan apa pun.
Lalu, bagaimanakah jika pers dibungkam!? Apakah kita ingin mengulang kembali masa orde baru? Ketika media seperti, Tempo, Detik, Editor dan media lainnya dibungkam oleh tindakan otoriter pemerintah. Sungguh tindakkan tidak dewasa, ketika hak berpendapat dibungkam, aspirasi dikekang dan berkreativitas dilarang, hanya demi sebuah kepentingan sekelompok orang! Ini bukan masanya lagi. Kebebasan berpendapat harus dijamin haknya, tidak boleh dibatasi, dikekang ataupun dibelenggu. Sebab pembelengguan terhadap suara masyarakat merupakan pembodohan terhadap rakyat!copas dari notes Kartini Zalukhu di Facebook
Jumat, 09 Maret 2012
Percintaan Ala Timur Tengah dari Negeri Sakura
Judul Buku :
The Bride’s Stories
Penulis :
Kaoru Mori
Penerbit :
PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit :
2011
Aku
sama sekali nggak berpikir, “Seandainya, Amira lebih muda.”
Amira Hargal kaget, calon suaminya berdiri tepat di
depannya. “Wah,” katanya, sewaktu menyingkap selendang dengan motif daun yang
rumit dari kedua wajahnya. Amira, dengan wajah khas komik Jepang terlihat
seperti perempuan asal Timur Tengah berkat keelokan pakaian dan perhiasan yang
ia kenakan.
Amira baru saja dinikahkan dengan Karluk Ayhan, pria
yang delapan tahun lebih muda darinya. Sejak menikah, Amira tinggal di rumah
Karluk di pesisir Laut Kaspia dan mulai membiasakan diri dengan keluarga
barunya yang besar. Kakek-nenek Karluk, Orang tua Karluk, kakak perempuan
Karluk beserta suami dan empat orang anaknya. Sebelumnya, keluarga Amira
merupakan keluarga yang hidup semi-nomaden yang hanya berpindah saat musim
panas. Keluarga Amira pun terbilang keluarga kecil karena hanya terdiri dari
orang tua dan ketiga saudara Amira.
Usia normal pernikahan saat itu ialah 15-16 tahun.
Pernikahan dengan perempuan yang lebih tua dianggap wajar sebab, sistem pewaris
keluarga berada di tangan anak laki-laki paling kecil (bungsu). Selain itu,
pernikahan juga merupakan pengikat hubungan antar keluarga. Sehingga, asal-usul
keluarga perempuan pun menjadi syarat penting dalam pernikahan. Kemudian,
perempuan yang lebih tua dianggap lebih siap bekerja dan bisa diandalkan.
Perbedaan umur delapan tahun, Amira 20 tahun dan
Karluk 12 tahun bukan menjadi masalah utama. Komik ini lebih bercerita tentang
kehidupan sehari-hari keluarga Amira dan Karluk yang hidup di abad 19 di bagian
Asia Tengah. Amira yang sempat hidup nomaden terampil dalam memanah dan
berkuda. Keahliannya tak terbatas itu saja, ia juga mahir memasak dan menyulam
layaknya perempuan-perempuan di negaranya.
Ada satu bagian di komik yang bercerita tentang
seberapa pentingnya kemampuan menyulam bagi para perempuan. Setiap keluarga dan
perempuan memiliki sulaman yang menjadi ciri khas masing-masing. Di keluarga
Karluk sendiri, ada motif bunga, elang, juga permata yang menjadi ciri
keluarganya. Hal ini menjadi penting, karena anak-anak perempuan harus mampu
menyulam kain mereka sendiri yang akan dibawa saat menikah nanti.
Kain dengan sulaman indah merupakan entitas
tersendiri dalam kebudayaan di cerita ini. Fungsinya bermacam-macam, sebagai
penghias ruangan, bahan pakaian dan hadiah bagi pengantin baru atau bagi ibu
yang baru melahirkan.
Komik ini sendiri menang dari segi estetika dan
keunikan cerita yang diangkat oleh pengarang. Detail perhiasaan, motif pakaian
dan permadani, ukiran-ukiran yang ada di seluruh cerita tergambar dengan jelas
dan nampak rumit. Mungkin, ini pula lah yang menyebabkan komik ini rentang
terbitnya setahun sekali. Namun, anda tak perlu ragu dengan kualitas gambar
yang ditawarkan oleh Mori.
Kesenangan Mori pada permadani asal Turki menjadi
bibit lahirnya komik setebal 186 halaman. Riset yang mendalam pun dilakukan
Mori. Sayangnya, sampai buku kedua, masih banyak hal-hal yang tidak dijelaskan
di komik ini. Seperti kenapa Amira baru menikah di umur 20 atau asal-usul Smith
–peneliti yang menumpang di keluarga Karluk. Tentu saja ini membingungkan
pembaca yang memiliki budaya berbeda atau bahkan lain sama sekali.
juga dimuat di www.suarausu-online.com
Rabu, 07 Maret 2012
all i can do now, is watching you from behind.
semua berjalan begitu cepatnya. aku, kau, kalian. kita. betapa indahnya menyebut kata "kita" di saat ini. masih kau rasakan kah romantika masa itu?
Aku kembali mengenang waktu yang telah lalu. kesalahan-kesalahan, your beliefs, mine. Perbedaan menjadi hal mutlak dan perpisahan tak terelakkan. Inilah hidup. Selamat Datang.
semua berjalan begitu cepatnya. aku, kau, kalian. kita. betapa indahnya menyebut kata "kita" di saat ini. masih kau rasakan kah romantika masa itu?
Aku kembali mengenang waktu yang telah lalu. kesalahan-kesalahan, your beliefs, mine. Perbedaan menjadi hal mutlak dan perpisahan tak terelakkan. Inilah hidup. Selamat Datang.
Kamis, 01 Maret 2012
Rabu, 29 Februari 2012
Gadis Tak Bernama
Pertemuan kami terjadi biasa saja. Aku tidak begitu mengenalnya. Hanya sesekali melihatnya belajar denganku di kelas yang sama. Mungkin, ada tiga kelas yang kami ambil bersama. Aku kurang yakin.
Saat itu, dosen killer memberi tugas yang cukup rumit. Dia ingin meminjam tugasku. Bicaranya lewat telepon. Entah dari mana ia tahu nomor teleponku. He had no idea about the task. And I had no idea why he borrowed mine.
Saat itu, dosen killer memberi tugas yang cukup rumit. Dia ingin meminjam tugasku. Bicaranya lewat telepon. Entah dari mana ia tahu nomor teleponku. He had no idea about the task. And I had no idea why he borrowed mine.
Kami bertemu di tempatku biasa meminjam komik. Tidak begitu jauh dari pintu masuk kampus. Aku pikir, dia tipe mahasiswa kelebihan uang jajan yang malas mengerjakan tugas. Salah besar, ternyata. Dia malah mengajakku diskusi.
Dia punya nama yang indah, aku menyukainya. Unik, dengan akronim yang cantik menurutku. Kulitnya putih, badannya tinggi, dengan wajah campuran Indonesia dan salah satu negara di Asia yang tak mau aku sebutkan. Benar-benar jauh dari dugaanku sebelumnya.
Ada beberapa kesamaan di antara kami. Seperti kecintaannya akan film-film asing, atau hobinya bermain basket. Aku suka basket, walau telah aku tinggalkan karena badanku tak juga bertambah tinggi. Yang paling aku suka ialah saat ia melakukan three point shoot, saat itu lah ia memiliki makna berbeda.
***
Dia memanggilku ‘C’. Atau dengan embel-embel ‘sayang’ di akhir panggilanku itu. Setiap bertemu denganku, dia pasti memasang tampang jelek atau pura-pura tidak kenal. Kalau aku tetap berjalan tanpa memperhatikannya, dia langsung memanggil “dudeng!”. Entah apa artinya, tapi aku senang mendengarnya. Mungkin itu efek jatuh cinta, hal-hal paling bodoh sekali pun dapat kita terima kalau lagi jatuh cinta. Bodoh sekali..
Tiap pukul 06.30 pagi dia menelponku, memastikan aku telah sarapan atau tidak. Kalau belum, dia akan mengomel panjang lebar. Aku tertawa karenanya. Tak pernah ku temui pria yang secerewet dia.
Bukan di pagi hari saja dia “menghantuiku” dengan teleponnya. Setiap malamnya dia pasti menelponku lagi, mengajakku cerita sampai aku benar-benar tidur. Sampai ia tak mendengar suaraku menjawab berbagai keusilannya. Bodoh, kataku. Dia mengelak, katanya dia suka dengar suaraku. Padahal suaraku cempreng. Dan itu merupakan hiburan baginya.
Bukan di pagi hari saja dia “menghantuiku” dengan teleponnya. Setiap malamnya dia pasti menelponku lagi, mengajakku cerita sampai aku benar-benar tidur. Sampai ia tak mendengar suaraku menjawab berbagai keusilannya. Bodoh, kataku. Dia mengelak, katanya dia suka dengar suaraku. Padahal suaraku cempreng. Dan itu merupakan hiburan baginya.
***
“C sayang, kalau aku lagi kosong, aku telpon kamu ya. Jangan telpon aku sebelum itu,” katamu di akhir telepon. Ucapan yang sama yang selalu diulangnya. Aku hapal.
“Iya,” jawabku selalu. Aku kempiskan senyumku. Tak sampai semenit, handphonenya pasti dinonaktifkan. Miris.
“Iya,” jawabku selalu. Aku kempiskan senyumku. Tak sampai semenit, handphonenya pasti dinonaktifkan. Miris.
***
Kalau sedang tak bersamamu, gadis. Ia bersamaku. Kami tak pergi kemana-mana. Hanya duduk berdua di mobil silvernya. Sekadar bercerita, menghabiskan waktu kosongnya. Terkadang kau begitu jahat, menyuruhnya menunggumu berjam-jam sendirian. Kalau sudah begitu, tentu saja dia mengajakku bertemu. “Jangan salahkan aku,” ucapku dalam hati, setiap melihat fotomu di dashboard mobilnya.
Ingatkah kau, gadis? Terkadang, ketika kau menelponnya, ia buru-buru mematikan teleponmu? Atau berbicara dengan terbata-bata? Nah, saat itu ia sedang bersamaku. Telingaku panas, tentunya. Mendengar ia memanggilmu ‘sayang’, ‘beb’, ‘hun’.. Ia memanggilku dengan sebutan itu juga, ‘C sayang’, remember?
Ingatkah kau, gadis? Terkadang, ketika kau menelponnya, ia buru-buru mematikan teleponmu? Atau berbicara dengan terbata-bata? Nah, saat itu ia sedang bersamaku. Telingaku panas, tentunya. Mendengar ia memanggilmu ‘sayang’, ‘beb’, ‘hun’.. Ia memanggilku dengan sebutan itu juga, ‘C sayang’, remember?
Ia juga sering menjemputku, sebelum menjemputmu di rumah, gadis. Bayangkan! Aku memeluknya lebih dahulu daripadamu. Mencium aromanya yang menyenangkan, merekam senyumnya. Memuji penampilannya, bahkan membenarkan kerah kemejanya. Aku tahu, waktu yang kau habiskan dengannya lebih dari pada aku. Tapi biarkan aku berbangga hati walau sesaat.
Jam berapa ia biasa mengantarmu pulang? Jam enam kah? Atau tujuh? Jam berapa pun, setelah ia mengantarmu pulang, ia lalu menjemputku di tempat biasa. Tempat pertama kali kami berjumpa. Lalu ia mengantarku pulang juga. Kau tak tahu itu, gadis.
Hidupku berubah selama setahun ini. Menggunakan banyak topeng. Di depan teman-temannya, aku harus bersikap biasa. Menahan pandanganku, agar tak menatap matanya dengan penuh kagum. Di depannya, aku tersenyum, seolah-olah waktu yang ku habiskan bersamanya selalu lebih dari cukup. Tahukah kau, gadis? Tiap harinya aku menahan jutaan atom kerinduanku untuknya!
***
Aku mengagumimu, gadis.. Kau orang yang baik dan penuh pengertian. Seperti hari itu, di saat kau menelponku. Mengajakku bertemu. Aku tak tahu, dari mana kau tahu nomor teleponku. Kalian sama anehnya dalam hal ini.
Aku mengagumimu, gadis.. Kau orang yang baik dan penuh pengertian. Seperti hari itu, di saat kau menelponku. Mengajakku bertemu. Aku tak tahu, dari mana kau tahu nomor teleponku. Kalian sama anehnya dalam hal ini.
Jantungku berdebar dengan sangat kencang, gadis. Lebih kencang dari saat aku meminum dua cangkir kopi. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan, selain mengikuti kemauanmu. Kau, benar-benar gadis yang baik.
***
“Ini bukan pertemuan kedua kita kan, gadis?” tanyaku sambil mengenang masa lalu.
“Sudahlah, biarkan apa yang telah berlalu,” katamu. Kemudian kau mengajakku ke sana. Ke dalam rumah yang seluruh dindingnya berwarna biru muda.
“Sudahlah, biarkan apa yang telah berlalu,” katamu. Kemudian kau mengajakku ke sana. Ke dalam rumah yang seluruh dindingnya berwarna biru muda.
***
Disebuah rumah duka, aku mencium keningnya dan berbisik, “Bukan salahku mendorongmu ke tengah jalan.”
“Hei, jangan memandangku seperti itu! Apa salahnya mengebut di jalanan sesepi itu?” bisik si gadis yang tak mau disebut namanya.
“Hei, jangan memandangku seperti itu! Apa salahnya mengebut di jalanan sesepi itu?” bisik si gadis yang tak mau disebut namanya.
Sekarang, kami lega.
juga dimuat di www.suarausu-online.com
Selasa, 21 Februari 2012
Besok sudah harus memulai kegiatan di kampus.
aku masih nggak bisa merelakan kepergian liburan yang udah aku nanti-nanti dari tahun lalu... (walau rencana-rencana yang ada nyaris tak terealisasikan semua) T.T
i'm begging so much for more holidaaaaay.....
Jadi, apalah liburan itu?
Kataku kepada seorang teman, liburan itu ialah menghabiskan waktu bersama orang-orang yang dikasihi, dan itu tak mesti kekasih.
Tapi menurutku, liburan itu spending more time at home. Tidur,baca setumpuk komik, nonton anime, main game.. Intinya: bermalas-malasan!
Tuhan.., kembalikan masa liburan sayah!!
aku masih nggak bisa merelakan kepergian liburan yang udah aku nanti-nanti dari tahun lalu... (walau rencana-rencana yang ada nyaris tak terealisasikan semua) T.T
i'm begging so much for more holidaaaaay.....
Jadi, apalah liburan itu?
Kataku kepada seorang teman, liburan itu ialah menghabiskan waktu bersama orang-orang yang dikasihi, dan itu tak mesti kekasih.
Tapi menurutku, liburan itu spending more time at home. Tidur,baca setumpuk komik, nonton anime, main game.. Intinya: bermalas-malasan!
Tuhan.., kembalikan masa liburan sayah!!
Minggu, 19 Februari 2012
(It could be wrong, could be wrong)
But it should've been right
(It could be wrong, could be wrong)
Let our hearts ignite
(It could be wrong, could be wrong)
Are we digging a hole?
(It could be wrong, could be wrong)
This is outta control
(It could be wrong, could be wrong)
It could never last
(It could be wrong, could be wrong)
Must erase it fast
(It could be wrong, could be wrong)
But it could've been right
(It could be wrong, could be...)
Love is our resitance
They keep us apart and they won't stop breaking us down
And hold me, our lips must always be sealed
Resistance- Muse
Minggu, 12 Februari 2012
I do love cakes! Cakes ini biasa aku sebut dengan nama “kue
cantik”. Maksudnya, kue yang tampilannya cantik/imut/menarik. J
Umumnya sih, bentuk dasarnya kue bolu yang punya lapisan krim
dan biasanya disajikan dengan tambahan buah/coklat dan krim yang ditata
sedemikian rupa untuk menerbitkan selera Anda. Wohohoho..
Sumpah yah, kalo search
gambar cakes di google, aku itu langsung melting
yang gimanaaaa gitu. Berasa jatuh cinta. Sama dengan kalo aku ke toko-toko kue.
Rasanya pengen beli semuanyaaaa. *mupeng*
Habis ini aku bakal nge-post
kue-kue yang pernah aku beli dan makan. Atau agung beli tapi aku yang habisin.
Intinya sama aja, aku udah nyoba. Hehehe,
Well,I’m
not a master on culinary, but I guess I’ve a good sense of taste but have no
sense on art at all. *curcol*
Habis membuka folder foto “dari henpon”, ternyata, ada banyak
bahan yang sebenarnya mau aku tulis diblog. -__-
yasudahlah, start today! J
Sabtu, 04 Februari 2012
kemarin, saya tidak benar-benar menangis. masih ada hal yang mengganjal di dalam hati. rasanya ingin menangis sebanyak-banyaknya. sampai mata ini lelah dan berharap dicabut saja dari tempatnya. but i don't have time even 15 minutes to cry.. (i sent it to my friend someday on December)
saat ini sedang mendengarkan lagu-lagu pilihan Agung. Syukurlah, kalau tidak, pasti playlist akan dipenuhi lagu galau dan saya berharap "someone, choke me please...!"
saat ini sedang mendengarkan lagu-lagu pilihan Agung. Syukurlah, kalau tidak, pasti playlist akan dipenuhi lagu galau dan saya berharap "someone, choke me please...!"
Rabu, 18 Januari 2012
Malam ini hujan, tapi bulan tetap kelihatan terang..
Malam itu
pun gerimis. Dan bulan sama terangnya dengan malam ini..
Tampat kita berkenalan? Bercumbu? Memadu kasih?
Apa pun itu, aku rindu.
Memang
tak perlu berlarut-larut mengingat masa lalu,
Tapi
wangi rindu selalu menelusup relung hati.
Membuatku
terngiang akan masa itu..
Aku menyayangimu!
Selasa, 17 Januari 2012
Haruskah kami terus menunggu
sampai hujan reda? Ah, padahal kemarau di sini tak cukup menyelesaikan masalah.
Jangan kau suruh aku menunggu
hujan reda, karena aku akan terus berada di kemarau berkepanjangan. Mungkin,
suatu saat kau akan datang membawa setitik air dan kau akan berkata, “Aku melewati hujan. Dan hujan masih
belum berhenti.”
Memang. Tapi tak selamanya
pula daun berada di tangkainya. Angin belum berhenti, tapi ia harus gugur
karena tunas yang baru.
Lebih tak enak diriku yang
menanti di sini..
Sakit di dada lebih terasa
daripada air mata. Ah, kenapa aku jadi sedih..
Sudahlah. Mudah-mudahan tak
ada badai dalam hujan.. Kelak, sampaikan pada anak cucu kalau badai juga bisa
indah..
Senin, 02 Januari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)

