Minggu, 26 Juni 2011
Kita tidak pernah berbicara lagi. Kau kah yang berjalan terlalu cepat? Atau aku lah yang memang lambat?
Aku kah yang terlalu sibuk? Atau kau kah yang memang tak pernah menyediakan waktu?
Aku kah yang terlalu sibuk? Atau kau kah yang memang tak pernah menyediakan waktu?
Kau menyimpan satu, aku tahu. Kau tak bercerita, tapi aku tahu.
Lalu, bagaimana aku bisa bercerita, kalau kau pun tak mau??
Kini, komponen-komponen itu berkumpul padaku. Membentuk “satu” yang baru. Apa yang harus ku lakukan??
*untuk seorang teman tersayang.
*untuk seorang teman tersayang.
Dulu selalu terlihat paling indah.
Tapi, ia akan berkata bahwa aku kurang mensyukuri hidup.
Maka,aku cukup berusaha membuat hari ini jadi yang terindah agar aku berhenti melihat ke belakang. :)
Aku benar-benar ingin menulis.
Menulis sesuatu atas apa yang aku rasa.
Atas rasa yang aku tahu.
Atas hal yang mungkin tak kan tersampaikan.
Senin, 02 Mei 2011
Kenapa?
Mungkin karena keahlian saya mengendarai motor hanya sebatas motor matic doang. Perlu diingat, kalo di motor itu cuma bisa saya seorang. Kalopun ngebonceng orang, ga bisa yang berat-berat atau yang jauh-jauh. Maklum, masih amatiran..
Kendaraan pertama saya adalah sepeda roda empat (sepanjang yang bisa saya ingat). Waktu itu kelas satu SD. Lagi asik-asiknya naik sepeda di depan rumah, Mbak Dewiku nantangin supaya saya ngelepas dua roda bantuan di samping kanan kiri sepeda. Janjinya, dia bakal ngajarin naik sepeda roda dua.
Setelah diajarin dan bisa (dan sempat jatuh juga), pergilah saya ke sekolah dengan menggunakan sepeda tiap hari. Rasanya keren sekali, soalnya sekolahku di Surabaya dulu lumayan jauh dan banyak kendaraan lalu lalang.
Orang yang nebeng pertama kali di sepeda, teman SD saya. Namanya Septi (di manakah engkau sekarang?). Badannya lebih tinggi dari saya, walaupun kurus, tapi ngebonceng dia buat anak SD imut-imut kaya’ saya, sunggulah berat. Tapi menyenangkan :) Masih ingat ekspresi bunda yang kaget ngeliat saya ngebonceng Septi. Lagi-lagi saya merasa kereeen sekali. :D
Sepeda saya dulu, kira-kira seperti ini. Tapi warnanya item-kuning..
Tapi jangan suruh saya ngebonceng orang sekarang. Gak berani! Saya belum ngerasa expert dalam hal mengendarai motor (matic) apalagi bebek? Terima kasih, saya tidak tertarik. :)
Dan karena ketakutan saya tersebut, wajarlah mata saya berbinar ngeliat cewe berbadan mungil bawa motor bebek (dan matic). Apalagi kalo mereka ngebonceng satu sampai dua orang. Sumpah, hal itu KEREN!!
Jumat, 29 April 2011
Waktu itu, aku menulis tiga baris kalimat untuk organisasiku tercinta.
“It’s a fun battlefield. Yang gak kuat bakal kalah. Sisanya bakal terus have fun.”
Saat ngebuat rangkaian kata itu. Aku berpikir “aku kuat”. Tanpa aku sadari, rasa kuat itu seharusnya gak hanya datang dari dalam diri aku. Tapi dari setiap komponen alam yang mengisi hidup aku. Saat itu, aku gak sadar hal itu.
Sebelumnya, kenapa aku buat kalimat-kalimat itu? Well, untuk terus hidup dan produktif di organisasi ini bener-bener keras. Jalannya terjal, banyak kerikil, apalagi batu-batu yang gede. Tapi semuanya terasa lebih mudah karena dukungan dan rasa nyaman yang aku dapat dari manusia-manusia yang ada di dalamnya.
“Walau makan susah, walau hidup susah, walau tuk senyum pun susah. Rasa syukur ini karena bersamamu, juga susah dilupakan. Ku bahagia”
Penggalan lagu Sherina ini selalu mengingatkan aku atas satu setengah tahun hidup aku di organisasi ini.
Rasanya berat sekali sewaktu harus meninggalkan rapat, tidak menjalankan tugas, tidak ontime, jarang ngumpul di rumah yang halamannya terkadang dipenuhi tai bebek.
Ngerasa lemah saat dianugerahi kewajiban yang tidak sesuai dengan kemampuan, ngerasa lemah saat semuanya keteteran, ngerasa lemah saat mereka yang dahulu mendukung memilih berputar haluan.
Masih kuatkah aku? Ironis rasanya, seperti menjilat ludah sendiri.
“Daripada gantung, lebih baik putus” kata Esi Lahur dalam novelnya, Pendosa. Aku termasuk tipe yang seperti ini. Tapi organisasi ini ngebuat aku berpikir kalau terkadang lebih baik gantung daripada putus. So, which one yours?
Rabu, 20 April 2011
Kembali merasakan hal “itu”.
Means: 24 hours isn’t enough [again]
*yang bener pake is ato are sih..? *ngomong ga penting untuk saat ini
Kamis, 07 April 2011
Kalau senyumku tak semanis sekarang. Will you stay here, still?
Kalau aku tak seperhatian sekarang. Will you stay here, still?
Kalau aku tak setangguh saat ini, tak sebaik seperti yang kau bilang. Will you stay here, still?
Kalau anggota tubuhku dimakan penyakit. Will you stay here, still?
Kalau kita sudah tak bisa melakukan hal-hal indah bersama. Will you stay here, still?
Kalau aku menjadi tertutup, jadi pribadi yang kau benci. Mampukah kau menjilat kata-kata yang telah tertutur?
Will I stay at your side, when it comes right to you?
Rabu, 06 April 2011
Kemarin, saya mengikuti sebuah seminar. Seminar yang menyampaikan hasil riset sebuah organisasi, atas pemberitaan lima media cetak (surat kabar) mengenai jumlah pemberitaan korupsi salah satu orang penting di kota kelahiran saya, Medan.
Ada tiga orang yang diberi kesempatan untuk duduk di depan kami, para peserta. Tempat mereka lebih tinggi, dengan kursi yang lebih bagus. Menggunakan meja, yang sudah ditutupi kain –entah berbahan apa. Walau memakan kue dan air yang bermerek sama, tapi ukuran air kami berbeda. Kami di gelas kemasan, sedangkan mereka di botol anti tumpah dan disediakan gelas kaca pula!
Saya menulis ini, bukan lah iri dengan mereka yang duduk di depan. Tapi, hanya membiasakan diri saya untuk menulis detail. Meski dianggap tak penting..
Pertama, moderator yang berasal dari organisasi tersebut. Dua sisanya pembicara. Satu dari dosen Departemen Ilmu Komunikasi, satunya lagi asisten redaktur salah satu media cetak yang diriset organisasi tersebut.
Pada hasil riset, surat kabarnya asisten redaktur memiliki jumlah tertinggi untuk berita jurnalisme pembangunan yang dilakukan oleh orang penting tadi. Berita korupsinya cuma satu.
Setelah pemaparan hasil riset, setiap pembicara pun menyampaikan makalah yang telah mereka buat. Setelah saya baca, dengar dan mencoba memahami isi makalah sang asisten redaktur. Saya pun bertanya pada sesi diskusi. “Kalau orientasi koran bukan pada berita korupsi, berarti tak wajib mengangkat berita tersebut? Padahal, news value berita korupsi orang penting itu tinggi looh..”
Ternyata, jawaban saya dijawab pertama kali. Katanya, “Lihat Majalah BOBO, segmennya edukasi dan hiburan. Tapi tidak ada berita korupsi, kan?”
Saya merasa, seperti dibodoh-bodohi anak kecil.
Minggu, 13 Maret 2011
Ada tugas yang harus dikejar. Ada cinta yang menunggu di rumah.
Aku masih terduduk di tempat ini. Menikmati kesendirian yang dibentuk oleh suara-suara yang berbeda. Tak bising bagiku, aku menyukainya.
Jangan katakan aku malas, atau membuang waktuku. Sudah lama tak merasakan hal ini. Sudah lama tak santai seperti ini.
21.51 Maret, Tiga belas, Sebelas
Rabu, 16 Februari 2011
Ia kembali menangis,
Untuk harga dirinya yang dibayar murah.
Hanya karena sebuah komitmen,
Lantas kau obrak-abrik hidupnya?
Bukan begitu caranya, kawan..
15.39 Januari, Sembilan, Sebelas
Selasa, 26 Oktober 2010
ini kedua kalinya aku ke tempat itu, kali ini bukan untuk wawancara. sepertinya aku yang akan diwawancara.
kami masuk bersama kenalan moyang, teman senasibku. ia menyuruh kami duduk di sudut dalam ruangan itu. aku melihat keadaan sekitar. tujuh meja, lengkap dengan kursi dan komputer bersama empat orang pria dewasa di ruangan itu. tiada kesan gelap, seram atau pun sendu. kipas angin terus berputar. masih di ruangan yang sama, pendingin udara juga dinyalakan. walau begitu, hatiku tetap tak tenang. ini kali pertama aku diwawancarai polisi.
mereka tertawa, akan kebodohan kami. tiada masalah, kami pun tak mempermasalahkan itu lagi. hanya berharap bantuan mereka yang berwenang.
pria berperut buncit itu menolak tuk memeriksa kami. belahan jiwanya kan menjadi saksi ahli nanti, katanya. beralih lah kami kepada pria berkumis. ia tak menyeramkan, hanya asyik tertawa dengan teman seruangan. mengulang-ulang pertanyaan yang telah kami jawab.
lalu ia memandang dengan serius. entah apa rasanya, dipandangi pria berumur, sedikit botak dan berkumis ala pak raden. aku mulai membayangkan film-film yang memiliki adegan interogasi.
kami masuk bersama kenalan moyang, teman senasibku. ia menyuruh kami duduk di sudut dalam ruangan itu. aku melihat keadaan sekitar. tujuh meja, lengkap dengan kursi dan komputer bersama empat orang pria dewasa di ruangan itu. tiada kesan gelap, seram atau pun sendu. kipas angin terus berputar. masih di ruangan yang sama, pendingin udara juga dinyalakan. walau begitu, hatiku tetap tak tenang. ini kali pertama aku diwawancarai polisi.
mereka tertawa, akan kebodohan kami. tiada masalah, kami pun tak mempermasalahkan itu lagi. hanya berharap bantuan mereka yang berwenang.
pria berperut buncit itu menolak tuk memeriksa kami. belahan jiwanya kan menjadi saksi ahli nanti, katanya. beralih lah kami kepada pria berkumis. ia tak menyeramkan, hanya asyik tertawa dengan teman seruangan. mengulang-ulang pertanyaan yang telah kami jawab.
lalu ia memandang dengan serius. entah apa rasanya, dipandangi pria berumur, sedikit botak dan berkumis ala pak raden. aku mulai membayangkan film-film yang memiliki adegan interogasi.
Senin, 18 Oktober 2010
jari-jari menekan setiap tuts yang ada di atas meja. kemudian, tombol delete di tekan kembali. menekan sampai tiada kata tersisa di dalam kotak putih di depan mataku.
aku terdiam..
aku ingin bercerita. cerita tanpa koma. cerita tentang perjuangan hidup yang berat. cerita tentang trauma. cerita tentang perih yang dibalut dengan kasa rapuh.
kemudian galau datang, menginjak semua rasa itu. semua ingin itu.
aku terdiam..
aku ingin bercerita. cerita tanpa koma. cerita tentang perjuangan hidup yang berat. cerita tentang trauma. cerita tentang perih yang dibalut dengan kasa rapuh.
kemudian galau datang, menginjak semua rasa itu. semua ingin itu.
Kamis, 14 Oktober 2010
Kemeja putih itu tampak pas di badanmu.
Yang aku tahu betul, walau tak berisi namun berbentuk.
Kemeja putih itu,entah pemberian siapa atau sudah berumur berapa bulan.
Aku tak peduli, karena tetap membuatmu keren seperti biasanya.
Kau berjalan lurus, tak melihatku yang memandangmu menjauh.
Memandang punggungmu, yang aku kenali baunya.
Kemudian, kau lewat lagi.
Aku memandangmu, kosong.
Tak tahu kau melihatku atau tidak, gadis yang penuh luka ini..
Siang, setelah mencium wangimu dari kejauhan.
Oktober, empatbelas.
Yang aku tahu betul, walau tak berisi namun berbentuk.
Kemeja putih itu,entah pemberian siapa atau sudah berumur berapa bulan.
Aku tak peduli, karena tetap membuatmu keren seperti biasanya.
Kau berjalan lurus, tak melihatku yang memandangmu menjauh.
Memandang punggungmu, yang aku kenali baunya.
Kemudian, kau lewat lagi.
Aku memandangmu, kosong.
Tak tahu kau melihatku atau tidak, gadis yang penuh luka ini..
Siang, setelah mencium wangimu dari kejauhan.
Oktober, empatbelas.
Langganan:
Postingan (Atom)

