Minggu, 18 September 2011

ya sudah, anak kan bisa dibuat lagi..
*nanggepin sinetron

malam ini malam galau. karena terlalu tahu byk hal.. mungkin bakal galau sampai waktu tidur nanti. wkt bangun ud ngga.. (biasany sleep helps a lot).

eeeh.. gombal! *nanggepin sinetron lagi.

lanjut!
that's why i love sleep soo much.
boleh tidur lama2 ga..?

Sabtu, 17 September 2011

Tahu


Terlepas dari ‘gangguan’ seorang sahabat baik di facebook maupun twitter, aku pengen cerita tentang hal  yang harus atau tidak harus aku ketahui.

Aku (mungkin) bukan orang yang terlalu peduli akan hal-hal yang diketahui orang lain. Asal jangan ‘dipamerin’ ke aku. Aku bakal penasaran setengah mampus akan hal itu. Heheh,

Knowing everything just hurts u much deeper, (entah grammar-ny bener apa kagak). Aku sering merasa seperti itu. Lebih sering lagi berharap ‘I know about nothing’, but then realized that hoping is a kind of nonsense. Tapi ya itu tadi, aku udah tahu banyak hal. Dan yang bisa dilakukan cuma nyari solusi dari hal-hal yang aku tahu, Ga bisa pura-pura gatau. Padahal, hidup dalam ketidak tahuan pun asik (terkadang).

Masalah aku perlu tahu atau nggak, mungkin itu hak si Maha Tahu kali ya? Kalo tahu-nya sekarang, mungkin aku bakal ngelakukan tindakan preventif atau malah cuek sama sekali. Tapi kalo tahu-nya nanti, ya efeknya bisa lebih berbeda-beda. Tergantung sama apa yang aku tahu.

Dear reader, ngerasa ga sih, kalo yang aku tulis ini ambigu sekali?
Ya sudahlah.. Let’s be gone by be gone, (mudah-mudahan yang ini pun tidak salah)

Rabu, 07 September 2011

cerita tentang cerpen

Sebenarnya, ada versi yang lebih panjang lagi dari cerpen yang barusan aku post. Nih dia,



Surat Untuk Si Mas

Mas, sudah tiga hari aku tidak nafsu makan karenamu. Haha, pasti kau berfikir aku sedang melancarkan aksi gombal kepadamu. Memang aku gombal, Mas. Aku bercanda. Kau pun sudah pergi sebulan yang lalu, kenapa aku baru tidak nafsu makan tiga hari belakangan? Kau pasti tahu aku bermain-main denganmu dari jauh, Mas. Aku tahu kau cerdas.
Apa kabarmu di negeri orang, Mas? Masih makan dengan teratur kah? Masih makan nasi, Mas?
“Sudah, makan roti saja di sana! Ngapain bawa beras segala?” tanyaku sambil membantumu mengemas barang.
“Perut orang Indonesia ga bakal kenyang kalo disumpel ama roti aja, sayang,” katamu sambil mengelus kepalaku. Aku tertawa karenanya.

Aku pikir, persediaan berasmu sudah habis saat ini, Mas. Atau masih ada? Kau kan sering berpuasa Senin-Kamis. Kebiasaan yang ingin kau tularkan padaku. Walaupun kau susah payah membangunkanku setiap jam empat pagi. Aku rindu, Mas..
“Aku mesti ganti puasaku,” kataku dengan wajah cemberut. Aku paling tidak bisa bangun pagi.
“Nanti aku bangunin, kita puasa bareng.”
“Gimana caranya? Mulai besok Mas di luar kota, kan?”
“Kaya’ nggak ada handphone aja, Mbak Lia. Ckckck,” katamu sambil menggelengkan kepala. Aku hanya tersenyum kecut.

Keadaan di sini baik-baik saja, Mas. Seperti yang selalu kau tanyakan sebelum kau pergi, “Baik-baik di sini ya?” Yah, aku baik-baik saja seperti harapmu. Seminggu setelah kau pergi yang aku lakukan hanya menatap handphone, mengharapkan pesan teks darimu. Atau kebiasaanku sampai sekarang, mengintip ke kotak pos di depan rumah. Aku baik-baik saja, Mas. Ku tanamkan ini dalam hati.
“Lia, tadi sore Rival nelpon, loh. Sayang, lagi-lagi kamu keluar sama temenmu,” kata Ibu saat aku baru masuk rumah.
Sayang kah? Setahuku, sudah dua kali kau menelpon di waktu yang sama. Dua-duanya di waktu aku menjenguk Ridha di rumah sakit, kau tahu aku selalu ke sana di waktu yang sama dua bulan terakhir ini. Kau marah, Mas?

Aku masih malas dan susah bangun untuk puasa. Setidaknya shalatku tidak putus, Mas. Bukan karena ingat Tuhan, tapi karenamu. Haha. Tak apalah, sedikit demi sedikit ‘kan kuperbaiki niatku. Setiap mendengar adzan, perasaanku ingin cepat-cepat shalat, Mas.
“Salim?” katamu sambil menyodorkan tangan.
“Untuk apa?” tanyaku. Tapi ku cium juga tanganmu.
“Maafin aku, kalo ada salah. Mulai sekarang, selalu gitu ya, kalo udah selesai solat?”
Aku tersenyum.

Aku merindukan saat-saat aku bisa mencium tanganmu. Tapi aku lupa, Mas. Kau sudah tak di sini lagi..
Tapi ya sudahlah, aku tak mau larut dalam sedih. Toh memori tentangmu masih hidup di benakku. Walau kata seorang teman, “tak ada yang lebih perih dari kenangan”. Kenangan atasmu memang mengirisku terkadang. Tak perlu kau sesali ini, Mas. Aku hanya ingin menceritakan rasaku padamu, itu saja.

“Maaf, tapi aku merasa ada yang ‘lain’ akhir-akhir ini,” tuturku setahun lalu di pendopo rumah. Saat kita tengah asyik menikmati tiupan angin.
“Kenapa Mbak?” tanyamu heran.
“Aku merasa, perasaanku sudah berubah, Mas. Tidak menyayangimu seperti dulu. Aku jadi senang berdandan walaupun kita tidak pergi kemana-mana. Aku ingin terlihat baik di depanmu. Kau mengerti maksudku?” jawabku terbata-bata.
Kau menatapku lama, lalu bangun dari tidurmu. Saat sedang duduk seperti ini, kau bahkan tetap lebih tinggi dariku.

            Kali ini, memori tentang masa kecil kita memenuhi ruangan ini, Mas.. Aku yang lebih tua dua tahun darimu, harus memanggilmu “mas”. Kau pernah menanyakan hal ini pada Ibu, aku ingat. “Kenapa Mbak Lia manggil aku mas, Bu?” Masih ingat jawaban Ibu, Mas? Katanya, supaya kita terbiasa sopan dalam bertutur kata. Terbiasa menghormati orang lain, walaupun lebih muda dari umur kita.
            Kau dekap aku erat. Hari itu, Ibu dan Ayah tak di rumah. Air mataku pun menetes. Mulai hari itu, kau sering memanggilku ‘sayang’.

            Dulu, aku memanggilmu Mas karena disuruh Ibu. Juga karena kau adik yang ku sayangi, adik yang sering bandel, yang sering pulang ke rumah dengan pakaian kotor dan bekas luka di sana-sini. Aku masih menyimpan fotomu yang seperti itu, foto yang aku ambil setelah kau dan teman-temanmu memenangkan pertandingan sepak bola. Mukamu kucel sekali, Mas..
            Walau dulu disuruh Ibu, jangan kau pikir aku masih memanggilmu Mas dengan dasar seperti itu. Tidak. Kini aku memanggilmu Mas karena aku ‘sayang’ denganmu. Ingin bersamamu dan menghormatimu bagai orang yang lebih tua dariku. Tak seperti dulu, Mas..
            Aku tahu, rasanya berat menghadapi kenyataan seperti ini. Aku pun merasa sesak di hati, tak mau menerima keadaan. Lebih berat lagi saat kau memintaku pergi bersamamu ke luar negeri.
            “Sayang, kamu harus ikut aku ke sana! Kau pernah bilang kalo kau terpesona dengan Big Ben, kan? Aku akan memfotomu langsung di depan Big Ben!” kau antusias. Aku terdiam.

Ibu dan Ayah memang mendukung kepergian kita. Tapi kau dan aku tahu, mereka tak mengerti rasa apa yang berkembang di dada kita. Tujuan apa yang ingin kau capai di luar sana. Maaf, aku tak bisa mengecewakan mereka dengan menikah diam-diam denganmu.
“Sayang, kita bisa hidup berdua di sana! Okelah, beasiswaku cuma untuk tiga bulan. Tapi aku mampu menulis. Aku akan bekerja di media sana. Kita nggak perlu pulang untuk beberapa tahun. Aku bisa menghidupi keluarga kita di sana!” suaramu mengeras. Air mataku tak henti jatuh ke lantai.
“Apa yang kau takutkan? Orang sana nggak akan peduli dengan kita. Lambat laun, Ibu dan Ayah akan mengerti perasaan kita! Aku udah nggak tahan harus berpura-pura di depan mereka. Aku nggak tahan tiga bulan terpisah darimu!”
Suara tangisku semakin keras..
“Tolonglah aku, Lia. Aku sayang denganmu. Saudaraku, kekasihku..”
“Aku nggak bisa, Mas..”

 Kenyataan itu kan, yang mempercepat waktu kepergianmu ke sana? Aku tahu kau hancur. Tapi kau tak tahu perasaanku, Mas. Ingin ku matikan logikaku. Ingin ku turuti rasaku. Tapi aku tidak bisa. Kita anak Ibu dan Ayah.
“Ayah, kenapa perut Ibu besar kaya’ balon?”
“Di dalam sana ada adik Lia. Nanti, Lia harus sayang sama dia.”

Sudahlah, mungkin tak perlu ku jelaskan panjang lebar betapa remuk redamnya aku. Apalagi, dua minggu setelah kepergianmu, Ibu dan Ayah mengajakku bicara. Apa kau masih ingat, Mas? Saat kita membuka album foto keluarga, dan kau tanyakan pada Ayah perihal tak adanya fotoku yang baru lahir di rumah sakit. Masih ingat jawabannya? “Dulu kami masih grogi, tak terpikirkan untuk membawa kamera. Ayah hanya memikirkan keselamatan Ibu dan Mbakmu, Lia.” Mereka bohong, Mas.
Malam itu, mereka masuk ke kamarku. Aku sedang mengatur bajuku. Mereka berbicara tentangmu, tentang rasa sayang mereka pada kita, tentang pernikahan mereka dulu.
Mereka bercerita penantian panjang mereka akan kita, seperti yang biasa diceritakan Ibu saat kita tidur di pendopo rumah. Yang tidak Ibu ceritakan saat itu, bahwa aku bukan anak kandung mereka, Mas. BUKAN SAUDARA KANDUNGmu, Mas. Bukan siapa-siapa di sini.
Aku menangis, Mas. Aku kacau, perasaanku hancur lebur.
Apa kau menyesal, Mas?

***

Setelah malam itu, Ibu lebih perhatian. Semenjak ‘rahasia’ mereka dibuka, Ibu menjadi semakin dekat denganku. Mungkin beliau takut melihat aku yang mengunci diri di kamar selama tiga hari berturut-turut. Keluar dari kamar hanya untuk makan dan ke kamar mandi. Siapa yang tak takut dengan perempuan yang berbaju rapi, tapi bermata sembab dan berjalan sambil menundukkan kepala? Lucu rasanya mengingat hal itu.
Tapi life must go on, pepatah yang mati-matian aku jalani. Hari ini, aku sedang membereskan kamar dengan Ibu.
“Lia, kotak ini masih dipakai?”
“Kotaknya iya, Bu. Isinya mau dibuang semua.”
“Ya sudah, Ibu bakar saja,ya?”
Ku anggukkan kepalaku. Surat untuk si Mas, ada di dalam kotak itu.


           


cerpen pertama!


Surat Untuk Si Mas
 
Halo, Mas. Ini surat pertamaku untukmu. Semoga kau memang menunggu hadirnya surat ini.
Mas, sudah tiga hari aku tidak nafsu makan karenamu. Haha, pasti kau berfikir aku sedang melancarkan aksi gombal kepadamu. Memang aku gombal, Mas. Aku bercanda. Kau pun sudah pergi sebulan yang lalu, kenapa aku baru tidak nafsu makan tiga hari belakangan? Kau pasti tahu aku bermain-main denganmu dari jauh, Mas. Aku tahu kau cerdas.
Apa kabarmu di negeri orang, Mas? Masih makan dengan teratur kah? Masih makan nasi, Mas? (Aku ingat dengan jelas kata-katamu. “Perut orang Indonesia yang sudah terbiasa makan nasi pasti tidak akan kenyang jika nasi diganti roti.”) Atau mungkin masih ada? Karena kau sering berpuasa Senin-Kamis. Kebiasaan yang ingin kau tularkan padaku. Walaupun kau susah payah membangunkanku setiap jam empat pagi. Aku rindu, Mas..
Keadaan di sini baik-baik saja, Mas. Seperti yang selalu kau tanyakan sebelum kau pergi, “Baik-baik di sini ya?” Yah, aku baik-baik saja seperti harapmu. Walau seminggu setelah kau pergi yang aku lakukan hanya menatap handphone, mengharapkan pesan teks darimu. Atau kebiasaanku sampai sekarang, mengintip ke kotak pos di depan rumah. Aku baik-baik saja, Mas. Ku tanamkan ini dalam hati.
Aku masih malas dan susah bangun untuk puasa. Setidaknya shalatku tidak putus, Mas. Bukan karena ingat Tuhan, tapi karenamu. Haha. Tak apalah, sedikit demi sedikit ‘kan kuperbaiki niatku. Setiap mendengar adzan, perasaanku ingin cepat-cepat shalat, Mas. Agar setelahnya bisa meminta maaf padamu, mencium lembut telapak tanganmu. Aku lupa, Mas. Kau sudah tak di sini lagi..
            Tapi ya sudahlah, aku tak mau larut dalam sedih. Toh memori tentangmu masih hidup di benakku. Walau kata seorang teman, “tak ada yang lebih perih dari kenangan”. Kenangan atasmu memang mengirisku terkadang. Tak perlu kau sesali ini, Mas. Aku hanya ingin menceritakan rasaku padamu, itu saja.
            Kali ini, ingatan tentang masa kecil kita memenuhi ruangan ini, Mas.. Aku yang lebih tua dua tahun darimu, harus memanggilmu “mas”. Kau pernah menanyakan hal ini pada Ibu, aku ingat. “Kenapa Mbak Lia manggil aku mas, Bu?” Masih ingat jawaban Ibu, Mas? Katanya, supaya kita terbiasa sopan dalam bertutur kata. Terbiasa menghormati orang lain, walaupun lebih muda dari umur kita.
            Dulu, aku memanggilmu Mas karena disuruh Ibu. Juga karena kau adik yang ku sayangi, adik yang sering bandel, yang sering pulang ke rumah dengan pakaian kotor dan bekas luka di sana-sini. Aku masih menyimpan fotomu yang seperti itu, foto yang aku ambil setelah kau dan teman-temanmu memenangkan pertandingan sepak bola. Mukamu kucel sekali, Mas..
            Namun, jangan kau pikir aku masih memanggilmu Mas dengan dasar seperti itu. Tidak. Kini aku memanggilmu Mas karena aku “sayang” denganmu. Ingin bersamamu dan menghormatimu bagai orang yang lebih tua dariku. Tak seperti dulu, Mas..
            Aku tahu, rasanya berat menghadapi kenyataan seperti ini. Aku pun merasa sesak di hati, tak mau menerima keadaan. Lebih berat lagi saat kau memintaku pergi bersamamu menempuh ilmu di luar negeri. Ibu dan Ayah memang mendukung kepergian kita. Tapi kau dan aku tahu, mereka tak mengerti rasa apa yang berkembang di dada kita. Tujuan apa yang ingin kau capai di luar sana. Maaf, aku tak bisa mengecewakan mereka dengan menikah diam-diam denganmu.
 Kenyataan itu kan, yang mempercepat waktu kepergianmu ke sana? Aku tahu kau hancur. Tapi kau tak tahu perasaanku, Mas. Ingin ku matikan logikaku. Ingin ku turuti rasaku. Tapi aku tidak bisa. Kita anak Ibu dan Ayah.
Sudahlah, mungkin tak perlu ku jelaskan panjang lebar betapa remuk redamnya aku. Apalagi, dua minggu setelah itu, Ibu dan Ayah mengajakku bicara. Apa kau masih ingat, Mas? Saat kita membuka album foto keluarga, dan kau tanyakan pada Ayah perihal tak adanya fotoku yang baru lahir di rumah sakit. Masih ingat jawabannya? “Dulu kami masih grogi, tak terpikirkan untuk membawa kamera. Ayah hanya memikirkan keselamatan Ibu dan Mbakmu, Lia.” Mereka bohong, Mas.
Malam itu, mereka masuk ke kamarku. Mereka berbicara tentangmu, tentang rasa sayang mereka pada kita, tentang pernikahan mereka dulu. Mereka bercerita penantian panjang mereka akan kita, seperti yang biasa diceritakan Ibu saat kita tidur di pendopo rumah. Yang tidak Ibu ceritakan saat itu, bahwa aku bukan anak kandung mereka, Mas. BUKAN SAUDARA KANDUNGmu, Mas. Bukan siapa-siapa di sini. 
Aku menangis, Mas. Aku kacau, perasaanku hancur lebur.
Apa kau menyesal, Mas?

***

Setelah malam itu, Ibu lebih perhatian. Semenjak ‘rahasia’ mereka dibuka, Ibu menjadi semakin dekat denganku. Mungkin beliau takut setelah melihat aku yang mengunci diri di kamar selama tiga hari berturut-turut. Keluar dari kamar hanya untuk makan dan ke kamar mandi. Siapa yang tak takut dengan perempuan yang berbaju rapi, tapi bermata sembab dan berjalan sambil menundukkan kepala? Lucu rasanya mengingat hal itu. Tapi life must go on, pepatah yang mati-matian aku jalani.
Hari ini, aku sedang membereskan kamar dengan Ibu. Tepat sebulan setelah masa gelapku.
“Lia, kotak ini masih dipakai?”
“Kotaknya iya, Bu. Isinya mau dibuang semua.”
“Ya sudah, Ibu bakar saja, ya?”
Ku anggukkan kepalaku. Surat untuk si Mas, ada di dalam kotak itu.

juga dimuat di www.suarausu-online.com

Senin, 05 September 2011

Cinta #3


  • Cinta itu baik. Tuhan menciptakannya sempurna. Hanya orang-orangnya saja yang salah melabelkannya.
  • Cinta itu… Kamu. (ini tipe orang yang gombal) :D
  • Cinta itu hal yang membawa kamu pada kebaikan.
  • Cinta itu tentang pengorbanan. Tindakanmu terhadap orang yang kau cintai tak berbeda dengan orang yang kau sayangi. Hanya saja, tingkatannya berbeda. Kalau sayang “memberi” 1, maka cinta “memberi” 2 bahkan lebih.
  • Cinta itu ketika kau mau mengorbankan segalanya termasuk nyawamu.
  • Cinta itu ketika t** ayam berasa coklat. (quote yang sering ak ucapkan. Hehe)
  • Cinta itu, ketika kau merasa derita yang tiada akhir. (my fave!) ~.~
  • Cinta itu all the things Snape has done to Harry Potter.

Jumat, 26 Agustus 2011

seharusnya,orang dgn tingkat pendidikan seperti saya sudah sangat mengerti bahwa kmr mandi darurat bukanlah tempat yg pas utk meregangkan badan. dan apabila dilakukan,dpt berakibat menyakiti badan orang yg bersangkutan.
*langsung pngen moto tangan ak yg luka
-_-

Selasa, 23 Agustus 2011

traitor

she said i'm a traitor. did i? do i? will i?

that's not the problem. i usually don't care bout what people think of me. but she's different. and that's the matter.

and.. the worst part is, i can't show my honest feeling. i do love u. and really care about u.

*another sad story to tell

Selasa, 16 Agustus 2011

krisis

saya sedang mengalami krisis. krisis kepercayaan. krisis kepecayaan pada dia, dan lebih2 atas diri saya. sejak dulu, saya memang mengalami krisis kepercayaan pada setiap hubungan. saya melihat hubungan dgn sikap apatis dan pesimis. pathetic memang.

akhir2 ini saya berpikir lbih keras dr biasanya. berusaha mengulang memori2 masa lalu, menilik rekam jejak hidup saya, hanya untuk mencari tahu. what happened to me?

semoga nanti saya bisa tahu penyebab sifat aneh saya. amin.

Selasa, 09 Agustus 2011

mimpi

aku mimpi. mimpi ingin membeli sepatu. sepatu2 itu ada di toko yg sangat artistik. artistik tak hanya tercermin dari tokonya,juga dari sepatu2nya. sepatu2 itu benar membuatku tergoda. tergoda untuk memilikinya. milikku belum ada yg berwarna seperti itu atau modelnya seperti ini. ini yg membuatku bersemangat utk mencoba semuanya satu2. satu2 sudah dicoba,semuanya bagus tapi tak ada ukuran yang pas. pas mencoba sepatu entah utk yg berapa kali, aku terbangun. hmmm, i guess i know what it means.
:/

Jumat, 05 Agustus 2011

Mati Muda


Senin, 22 Januari 1962
Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda. Catatan Seorang Demonstran – Soe Hok Gie

Bahagialah mereka yang mati muda. Bukannya aku ingin mati muda atau apa. Tapi dari dulu aku merasa, mati muda is a nice thing. Dalam pikiranku, orang yang mati muda biasanya baik. Makanya, Tuhan cepat-cepat “ngambil” dia supaya ga jadi salah hidupnya. And I would be glad to die in a very young age if God think that is the best for me. Maksudnya, kalo amal aku LEBIH BANYAK dari dosa. Jadi aku ga perlu di”celup-celup” di neraka dulu. Kalo yang satu itu (neraka) aku takut.

Aku ingin mati dengan cepat dan tenang. Kalau bisa with no pain at all. Dan kalau bisa juga, dengan keadaan bersujud (lagi-lagi karena keren. Hehe). Dan semoga, saat aku mati nanti, urusan aku di Bumi udah selesai. Kaya’ utang-utang, janji-janji.. Biar keluarga aku ga repot ngurusnya. :)

Kalau aku mati nanti, maunya dimakamkan di tempat yang paling mudah. Ga usah di tempat yang bagus-bagus atau heboh ngirim mayat aku dari kota ini ke kota itu. Aku gamau ngerepotin mereka yang masih hidup saat aku mati nanti. Kalian yang bakal merindukan hadirku juga ga usah repot-repot ke kuburanku kalau rindu sama aku. Cukup kirimin surat Fatihah aja. Ga usah heboh beli air mawar, kembang tujuh rupa, nyewa tukang cabut rumput atau apa lah. Toh yang di kuburan itu, mayat. Bukan aku. Jiwaku udah pergi dan ga ada urusan dengan kalian lagi, manusia yang masih hidup. Bener, kan?

Dengan pola pikir yang seperti ini, makanya aku bingung ngeliat orang yang nangis-nangis di makam seseorang sambil meluk-meluk nisan atau ngomong sendiri sambil ngusap-ngusap tanah. Tapi, apa mau dikata? Mungkin mereka melakukan itu lebih karena pengaruh budaya atau kebiasaan. Tapi semoga mereka sadar, kalau yang di dalam tanah itu udah ga ada urusan lagi sama yang ada di atas tanah. They can’t hear, see and talk. Just as simple as that.

Kamis, 28 Juli 2011

cinta #1

don't give up on ur faith, love comes to those who believe it. and that's the way it is.. -celine dion

merujuk pada lagu ini, mungkin karena saya tidak percaya cinta, maka ia tak pernah benar-benar datang.

tak perlu disesali. satu hal yang saya yakini ialah, saya dikelilingi oleh orang yg menyayangi saya dan juga saya sayangi.
*rasa sayang ialah perasaan yang tak pernah saya ragukan maknanya.
:)

jadi, apakah cinta itu?

pertanyaan yg sering saya dengungkan akhir-akhir ini. banyak jawaban yang saya terima

cinta #2

(sebelumny,saya gtw kalo ngepost dari hp ternyata spacenya terbatas)

*lanjut!

tapi banyak juga yang bilang "gatau" atau ga mau jawab,atau sama males mikirnya kaya' saya. entahlah. hehe,
sayangnya, tidak semua jawaban mereka saya catat dgn baik. hanya beberapa,and i promise to everyone who read it, i'll tell u next time.
:)

ciao!

Malam ini dingin

Malam ini dingin,
Bukan karena bulan yang tak tampak.
Atau angin yang berhembus kencang.
Tidak. Bukan karena itu.

Malam ini dingin,
Karena tak ada kasih yang menunggu di rumah.
Tak ada sahabat bertukar pikiran.
Tak ada teman untuk bercanda.

Malam ini dingin,
Karena sesekali aku harus menyeka darah yang keluar dari hidung.
Karena aku harus mengumpulkan rambut yang berguguran.
Karena aku harus tidur di kasur putih.

Malam ini dingin,
Lebih dari biasanya.

juga dimuat di www.suarausu-online.com

Sabtu, 23 Juli 2011

hujan

i am using mom's chinese qwerty phone. berusaha tetap "menulis" dalam keadaan apapun. walau resikonya, bunda bakal marah krn pulsanya cepat abis. dan font tulisanku tak menggunakan comic sans ms lg. huhuhu
-_-

share with me the blankets that you're wrapped in,because it's cold outside.
share with me the secrets that you kept in, because it's cold inside. it's cold inside..

*hujan

ntahhapa #1

Kalo dia takut ama Tuhan, dia ga bakal ngapa-ngapain lo!



*ternyata masih susah nyari orang yang takut ama Tuhan.. Sigh,

Tentang Mencintai

Oleh Shinta Anita


Kalau mencintai adalah mengenai wajah bersemu merah dan senyum merekah,

Kalau mencintai adalah mengenai degup jantung yang jungkir balik,

Kalau mencintai adalah mengenai kehabisan kata-kata dan tercekatnya teggorokan serta tersumbatnya perjalanan arus listrik dalam neutron-neutron otak,

Kalau mencintai adalah mengenai ketakutan atas keasingannya sendiri,

Kalau mencintai adalah sebab yang membuat bintang terlihat lebih terang, angin berhembus lebih sejuk, matahari bersinar lebih hangat, awan berbentuk lebih menarik dan pelangi semakin warna-warni,

Kalau mencintai ternyata adalah kerabat dekat cemburu,

Kalau mencintai membuat kehadiran air mata menjadi sesering kemunculan butir embun di pagi hari yang dingin,

Kalau mencintai adalah jalinan rumit serabut akar yang menjalin butir-butir tanah di bawah permukaan simplisitas hidup,

Kalau mencintai adalah kerinduan yang paling teramat ketika seseorang tak di samping,

Kalau mencintai memaksa seseorang menjadi dewasa, mendobrak kekanak-kanakan, menyentakkan logika dan menyentuh dingin hati,

Kalau mencintai adalah harapan agar Tuhan melindungi dan memberikan yang terbaik,

Kalau mencintai adalah begitu cepatnya waktu berlalu saat bersama seseorang,

Kalau mencintai membuat tertawa lebih lepas, senyum lebih lebar, dan terbahak lebih sering,

Kalau mencintai adalah tentang mencoba memahami, mengerti, mendalami arti, alasan dan tujuan hidup, berkontemplasi dalam merenungi segala makna, berkutat dalam jagad pemikiran,

Kalau mencintai terkadang membuat rapuh bagai helai daun kering, yang gugur di siang terik.

Kalau mencintai membuat semakin dekat dengan-Nya,

Kalau mencintai adalah penyesalan yang dalam karena mengucapkan kata-kata tidak bertulang yang menyakitkan,

Dan kalau mencintai adalah kalau-kalau yang lain,

Maka, sudah ribuan kali aku mencintai.

Tapi kalau mencintai harus memenuhi semua premis di atas dalam satu titik absurd waktu, maka ini adalah untuk pertama kalinya,

Dan aku mencintaimu.

Dari buku: Let’s Talk About...

kalimat yang aku suka dari buku #1

“..yang membenci peraturan. Sebab peraturan banyak mengecewakan.”
Halaman 2

“Hidup adalah sekumpulan luka. Sekumpulan dosa.”
Halaman 12

“Tubuh penuh lumpur dosa dan luka-luka bernanah, bau. Tapi tidak ada yang tahu. Atau mau tahu.”

“Gue lebih buruk dari mereka. Muka gue lebih banyak dari mereka. Gue badut. Muka gue diselimutin bedak putih tebal, dan ada goresan-goresan merah di samping bibir gue. Di hidung gue ada bulatan merah seperti cherry. Dan, gue menari.”
Halaman 17-18
Buku: Dan Hujan Pun Berhenti


“Pernah jatuh cinta, Pal? Itu luar biasa. Dan akan lebih luar biasa kalau gadis itu menolakmu, sebab rasa sakit yang kau rasakan di sini dan di sini..” Matt menunjuk dada dan kepalanya. “Rasa sakit itu membuatmu merasa mampu menjungkirbalikkan semesta. Kau begitu marah dan terhina, sampai-sampai kau ingin matahari meledak agar langit menjadi hitam seperti suasana hatimu.”
Halaman 88

Sumpah, aku sering ngerasa kaya gini. (kalimat yang aku miringin) Haha

Air mata konon bisa mengurangi duka, sebab kesedihan membutuhkan penyaluran.
Halaman 144
Cinta adalah keberanian
untuk memberi
untuk menerima
untuk mencari
untuk berjuang
untuk menghadapi kekalahan
dan juga untuk kehilangan
Halaman 154
Buku: Zona @ Tsunami – Dewie Sekar