Tampilkan postingan dengan label puisi?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi?. Tampilkan semua postingan
Minggu, 05 Agustus 2012
Tadi, ku tengok langit berona
Rupanya hujan hendak tiba
Ribuan jemarinya mendekapku pilu
Entah siapa yang ia rindukan..
Seperti engkau, rona merah menghias pipi
Usahakan setiap jalan tuk berjumpa
Lalu, memeluk mesra..
Aku terperanjat.
Mengapa berlalu begitu cepat?
*hujan, Agustus ketiga di 2012
juga dimuat di www.suarausu-online.com
Rupanya hujan hendak tiba
Ribuan jemarinya mendekapku pilu
Entah siapa yang ia rindukan..
Seperti engkau, rona merah menghias pipi
Usahakan setiap jalan tuk berjumpa
Lalu, memeluk mesra..
Aku terperanjat.
Mengapa berlalu begitu cepat?
*hujan, Agustus ketiga di 2012
juga dimuat di www.suarausu-online.com
Rabu, 07 Desember 2011
Kau terbangun di pukul dua pagi
Menggoyangkan tubuhku yang tertidur di sampingmu
Tadi malam Kau marah
Pura-pura tidur saat aku pulang
Aku terbangun
Belum sadar
Kau rengkuh aku
Tak ada jarak antara kita
Namun dengan posisi yang benar-benar aneh
Kau marah?
…
Kau tak berkata
Lalu kita larut dalam kemesraan di Desember pagi
7.12.11
2.47
Selasa, 25 Oktober 2011
Langit cerah retak kini
Hadirkan sisi gelapnya yang menawan
Peluhnya pun tumpah
Setetes, puluhan tetes, lalu ratus ribuan tetes
Tak apa, karena ia sisakan waktu panjang untuk kita
Hujan hari ini punya cerita,
Ia juga bawa cerita lampau
Cerita mana yang ingin kau dengar?
Atau kita karang saja, cerita baru?
Kau genggam tanganku
Di lorong hitam panjang
Sebelumnya, kau tampar gadis itu
Dan bawakan ku seikat mawar.
Kau genggam tanganku
Di lorong hitam panjang
Menangis tersedu
Karena gadis itu menyayat hatimu
Kau genggam tanganku
Di lorong hitam panjang
Tak berkata, hanya tersenyum lega
Walau beban menumpuk di pundakmu
Kau genggam tanganku..
Ah,
Cerita mana yang kau suka, sayang?
Hadirkan sisi gelapnya yang menawan
Peluhnya pun tumpah
Setetes, puluhan tetes, lalu ratus ribuan tetes
Tak apa, karena ia sisakan waktu panjang untuk kita
Hujan hari ini punya cerita,
Ia juga bawa cerita lampau
Cerita mana yang ingin kau dengar?
Atau kita karang saja, cerita baru?
Kau genggam tanganku
Di lorong hitam panjang
Sebelumnya, kau tampar gadis itu
Dan bawakan ku seikat mawar.
Kau genggam tanganku
Di lorong hitam panjang
Menangis tersedu
Karena gadis itu menyayat hatimu
Kau genggam tanganku
Di lorong hitam panjang
Tak berkata, hanya tersenyum lega
Walau beban menumpuk di pundakmu
Kau genggam tanganku..
Ah,
Cerita mana yang kau suka, sayang?
terinspirasi dari tweet Sudjiwo Tedjo, “Tahukah
kamu orang yang paling tak berperasaan? Dia yang jauh dari kekasih di saat
hujan, tapi tidak menghasilkan puisi.”
Juga dimuat di www.suarausu-online.com
Minggu, 23 Oktober 2011
Dia, memandangku sendu dengan matanya yang bulat.
Berkali-kali ia mengerjapkan matanya, menunjukkan kelentikan bulunya.
Sesekali ia menarik nafas dalam-dalam, sambil menyimak setiap kata yang ku ucapkan.
Bibirnya yang tipis, tersenyum lemah saat mendengar keputusanku.
Sudah berapa kali kita berbicara seperti ini?
Sudah berapa kali aku tertawa putus asa di depanmu, sayang?
Kemudian tanyaku, “Apa maumu?”
“Cukup genggam tanganku, dan janjikan kau akan pulang untukku, nanti.”
Kamis, 28 Juli 2011
Malam ini dingin,
Bukan karena bulan yang tak tampak.
Atau angin yang berhembus kencang.
Tidak. Bukan karena itu.
Malam ini dingin,
Karena tak ada kasih yang menunggu di rumah.
Tak ada sahabat bertukar pikiran.
Tak ada teman untuk bercanda.
Malam ini dingin,
Karena sesekali aku harus menyeka darah yang keluar dari hidung.
Karena aku harus mengumpulkan rambut yang berguguran.
Karena aku harus tidur di kasur putih.
Malam ini dingin,
Lebih dari biasanya.
juga dimuat di www.suarausu-online.com
Bukan karena bulan yang tak tampak.
Atau angin yang berhembus kencang.
Tidak. Bukan karena itu.
Malam ini dingin,
Karena tak ada kasih yang menunggu di rumah.
Tak ada sahabat bertukar pikiran.
Tak ada teman untuk bercanda.
Malam ini dingin,
Karena sesekali aku harus menyeka darah yang keluar dari hidung.
Karena aku harus mengumpulkan rambut yang berguguran.
Karena aku harus tidur di kasur putih.
Malam ini dingin,
Lebih dari biasanya.
juga dimuat di www.suarausu-online.com
Minggu, 17 Juli 2011
Aku menunggumu di persimpangan hatiku.
Ku tunggu.
10 menit,
20 menit,
1 jam.
Lama terasa..
Aku hubungi dirimu,
Lalu kau menyapa datar.
Tanpa senyum, tanpa panggilan sayang.
Lalu aku diam.
Dan kita diam.
..
…
….
…..
Sudahlah, kita sama-sama kacau.
Kita benar-benar tak butuh kata.
Juni, 2011
Ku tunggu.
10 menit,
20 menit,
1 jam.
Lama terasa..
Aku hubungi dirimu,
Lalu kau menyapa datar.
Tanpa senyum, tanpa panggilan sayang.
Lalu aku diam.
Dan kita diam.
..
…
….
…..
Sudahlah, kita sama-sama kacau.
Kita benar-benar tak butuh kata.
Juni, 2011
juga dimuat di suarausu-online.com
Ingin menertawai amarah,
yang mengambil alih logika.
Merebut Tuhan dari hati.
Ingin bertepuk untuknya, bersuka cita, menyembah padanya.
Amarah bangga telah meneteskan air dari mata.
Meniup senyum dari wajah.
Tapi amarah lupa,
pada hati yang fitrahnya pada kedamaian,
pada alam yang selalu memberi warna gembira.
Amarah pun kalah.
Ia jatuh dan menguap bersama panasnya hari.
(Februari, 2011)
juga dimuat di suarausu-online.com
Senin, 04 Juli 2011
Kita punya rasa.
Lalu bertemu di tempat itu, menunggu mereka terlelap.
Atau mungkin tidak menunggu mereka.
Entah lah..
Kita berpindah, dari air lalu api lalu udara.
Tak masalah bagiku, toh aku tetap merasa hangat.
Kita bercerita, yang jarang aku lakukan.
Tentangku, tentangmu.
Pikiranku, pikiranmu.
Rasaku, rasamu.
Lukaku, lukamu.
Kita bermandikan cahaya bulan.
Aku tahu itu.
Dan kau terlihat lebih cantik dari biasanya.
Garis-garis wajahmu terlihat benderang.
Seakan ada lingkaran halo di kepalamu.
Aku berharap waktu berhenti.
Mungkin kau juga merasa yang sama.
Entahlah..
Kita harus berhenti.
Empat pagi, kataku.
Lalu kita berhenti.
juga dimuat di suarausu-online.com
Kamis, 07 April 2011
Kalau senyumku tak semanis sekarang. Will you stay here, still?
Kalau aku tak seperhatian sekarang. Will you stay here, still?
Kalau aku tak setangguh saat ini, tak sebaik seperti yang kau bilang. Will you stay here, still?
Kalau anggota tubuhku dimakan penyakit. Will you stay here, still?
Kalau kita sudah tak bisa melakukan hal-hal indah bersama. Will you stay here, still?
Kalau aku menjadi tertutup, jadi pribadi yang kau benci. Mampukah kau menjilat kata-kata yang telah tertutur?
Will I stay at your side, when it comes right to you?
Rabu, 16 Februari 2011
Ia kembali menangis,
Untuk harga dirinya yang dibayar murah.
Hanya karena sebuah komitmen,
Lantas kau obrak-abrik hidupnya?
Bukan begitu caranya, kawan..
15.39 Januari, Sembilan, Sebelas
Senin, 18 Oktober 2010
jari-jari menekan setiap tuts yang ada di atas meja. kemudian, tombol delete di tekan kembali. menekan sampai tiada kata tersisa di dalam kotak putih di depan mataku.
aku terdiam..
aku ingin bercerita. cerita tanpa koma. cerita tentang perjuangan hidup yang berat. cerita tentang trauma. cerita tentang perih yang dibalut dengan kasa rapuh.
kemudian galau datang, menginjak semua rasa itu. semua ingin itu.
aku terdiam..
aku ingin bercerita. cerita tanpa koma. cerita tentang perjuangan hidup yang berat. cerita tentang trauma. cerita tentang perih yang dibalut dengan kasa rapuh.
kemudian galau datang, menginjak semua rasa itu. semua ingin itu.
Kamis, 14 Oktober 2010
Kemeja putih itu tampak pas di badanmu.
Yang aku tahu betul, walau tak berisi namun berbentuk.
Kemeja putih itu,entah pemberian siapa atau sudah berumur berapa bulan.
Aku tak peduli, karena tetap membuatmu keren seperti biasanya.
Kau berjalan lurus, tak melihatku yang memandangmu menjauh.
Memandang punggungmu, yang aku kenali baunya.
Kemudian, kau lewat lagi.
Aku memandangmu, kosong.
Tak tahu kau melihatku atau tidak, gadis yang penuh luka ini..
Siang, setelah mencium wangimu dari kejauhan.
Oktober, empatbelas.
Yang aku tahu betul, walau tak berisi namun berbentuk.
Kemeja putih itu,entah pemberian siapa atau sudah berumur berapa bulan.
Aku tak peduli, karena tetap membuatmu keren seperti biasanya.
Kau berjalan lurus, tak melihatku yang memandangmu menjauh.
Memandang punggungmu, yang aku kenali baunya.
Kemudian, kau lewat lagi.
Aku memandangmu, kosong.
Tak tahu kau melihatku atau tidak, gadis yang penuh luka ini..
Siang, setelah mencium wangimu dari kejauhan.
Oktober, empatbelas.
Langganan:
Postingan (Atom)
